Cat Blue

Cute Blinking Blue Cat

Kamis, 16 April 2015

HUBUNGAN BISNIS DAN LINGKUNGANNYA

Beberapa kecenderungan yang menentukan nasib peradaban manusia : meningkatnya populasi, kenaikan suhu, penurunan tabel air, berkurangnya lahan pertanian per individu, berkurangnya wilayah perikanan, penyusutan hutan, dan punahnya spesies hewan dan tanaman. Hampir semua kenaikan populasi terjadi di negera berkembang yang memang padat penduduknya, trend kedua yang mempengaruhi seluruh dunia adalah kenaikan suhu yang disebabkan oleh bertambahnya kosentrasi karbondioksida. Jumlah pengambilan air yang ber juga menjadi masalah. Hal lain yang semakin mempersulit pemyediaan pangan bagi populasi dunia yang diperkirakan terus bertambah dalam beberapa dekade mendatang adalah penyusutan jum;ah lahan pertanian per individu. Manusia juga bergantung pada hasil laut untuk emperoleh persediaan pangan. Jika seperti yang diyakini oleh sebagian besar ahli, lau tidak mampu menyediakan hasil ikan  lebih dari 95 juta ton, maka hasil tangkapan per individu akan menurun secara bertahap dalam dekade-dekade mendatang sejalan dengan kenaikan jumlah populasi dunia. Semua masalah mengarah pada kesimpulan bahwa akan jauh lebih sulit bagi manusia untuk memenuhi pangan selama setengah abad ke depan. Masalh-masalh lingkungan memunculkan berbagai persoalan etika dan teknologi yang rumit bagi masyarakat bisnis kita.

Dimensi Polusi dan Penyusutan Sumber Daya
Polusi mengacu pada kontaminasi yang tidak diinginkan terhadap lingkungan oleh pembuatan atau oenggunaan komoditas. Penyusutan sumber daya mengacu pada konsumsi sumber daya yang terbatas atau langka.

Polusi Udara
Polusi udara telah terjadi semenjak revolusi dunia, saat cerobng-cerobong asap pabrik mulai berdiri. Polusi udara semakin meningkat secara besar-besaran saat industri mulai meluas. Polusi udara dapat menyebabkan terjadinya : pemanasan global, penyusutan ozon, hujan asam, racun udara, dan kualitas udara menurun.

Polusi Air
Polusi air kita hadapi sejak peradaban manusia mulai menggunakan air untuk membuang sampah dan kotoran.nbahan-bahan pencemar air : sampah organik, garam, logam,  bahan radioaktif, bakteri, virus, dan endapan.

Polusi Tanah
Zat beracun yang dibuang ke tanah termasuk zat kimia asam, logam inorganik (seperti merkuri dan arsenik), bahan pekarut mudah terbakar, pestisida, herbisida, fenol, bahan peledak, dan sebagainya.
Limbah padat seperti sampah yang dihasilkan industri di Amerika yang bisa mencapai 7,6 miliar ton per tahun menjadi masalah terseniri bagi lingkungan. Reaktor nuklir juga menghasilkan tiga jenis limbah : limbah tingkat tinggi, limbah transuranik, limbah tingjat rendah.

Penyusutan Spesies dan Habitat
Habitat hutan yang menjadi temoat tinggal bernagai jenis spesies dihancuerkan oleh industri kayu. Para ahli memperkirakan bahwa kerusakan hutan hujan di bumi mencapai tingkat 1 persen per tahun. Hilangnya habitat hutan yang disertai dengan pengaruh-pengaruh polusi diperkirakan telah mengakibatkan kepunahan sejumlah besar spesies.

Penyusutan Bahan Bakar Fosil
Saat semua cadangan sumber daya alam mulai menipis, secara otomatis proses produksi juga semakin sulit dan biayanya juga semakin mahal. Konsumsi sumber daya secara bertahap menurun ketika semakin sulit diperoleh, dan bukan berakhir pada periode  di mana sumber daya tersebut habis sama sekali dalam waktu singkat.

Penyusutan Mineral
Habisnya mineral dalam jangka waktu relatif singkat akan mengakibatkan hancurnya berbagai industri yang bergantung padanya.

Etika Pengendalian Polusi
Selama berabad-abad, lembaga bisnis diperbolehkan mengabaikan akibat kegiatan mereka terhadap lingkunga. Pertama, para pelaku bisnis menganggap udara dan air adalah barag gratis-atau dengan kata lain, tidak ada yang memiliki dan masing-masing perusahaan bisa menggunakannya tanpa perlu mengeluarkan biaya. Kedua, bisnis melihat lingkungan sebagai barang tak terbatas.

Etika Ekologi
Sebuah etika ekologi adalah rangkaian organisme dan lingkingan yang saling terkait dan saling bergantung. Usaha bisnis bergantung pada lingkungan alam dalam memperoleh energi, sumber dyaa material, dan pembuangan limbah, dan sebaliknya, alam dipengaruhi oleh aktivitas-aktivitas bisnis dari perusahaan. Etika ekologi didasarkan pada gagasan bahwa bagian-bagian lingkungan yang bukan manusia perlu dijaga  dan bagian-bagian itu sendiri, tidak masalah apakah menguntungkan masnusia atau tidak. Etika ekologi adalah sebuah etika yang mengklaim bahwa kesejahteraan dari bagian-bagian nonmanusia di bumi ini secara intrinsik emiliki nilai tersenriri dan bahwa, karena adanya nilai intrinsik ini, kita manusia memiliki tugas untuk menghargai dan mempertahankannya. Versi-versi yang lebih luas dari etika ekologi mencakup tugas-tugas kita tidak hanya pada binatang tapi juga tumbuhan. Sebagian versi bicara tentang tugas dan kewajiban, dan mengusulkan sebuah pendekatan terhadap alam yang lebih terkait dengan maslah kebaikan dak karakter.

Hak Lingkungan dan Pembatasan Mutlak
Lingkungan yang nyaman buknlah sesuatu yang kita semua ingin miliki : tetapi sesuatu di mana yang lain berkewajiban untuk memungkinkan kita untuk memilikinya. Water Polution Control Act (1972) mewajibkan perusahaan utnuk menggunakan "teknologi praktis terbaik" untuk mengatasi poluis (misalnya teknologi yang dipakai oleh beberapa pabrik yang paling sedikit menghasilkan polusi dslam suatu industri. Peraturan tersebut tidak mengatakan bahwa perusahaan harus mengurangi polusi sejauh keuntungannya lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan : tetapi, sebaliknya, hanya menerapkan pembatasan mutlak atas polusi, berepapun biaya yang dikeluarkan. Pembatasan mutlak semacam ini paling baik bila dilihat dengan mengacu pada hak-hak manusia hal yang menyulitkan adalah kemungkinan pengaruh persyaratan penanganan polusi terhadap penutupan perusahaan dan hilangnya lapangan kerja.

Utilitarianisme dan Pengendalian Parsial
Pendekatan yang secra fundamental bersifat utilitarian terhadap masalah lingkungan adalah dengan melihat masalah-masalah tersebut sebagai cacat pasar. Jika suatu indistri mencemari lingkungan, harga pasar dari komoditas -komoditasnya tidak lagi mencerminkan biaya sesungguhnya dalam proses produksi komoditas tersebut : adalah kesalahan alokasi sumber daya, peningkatan jumlah limbah, dan distribusi komoditas yang tidak memadai. Pendekatan utilitarianisme menyatakan bahwa seseorang perlu berusaha menghindari polusi karena dia juga tidak ingin merugikan kesejahteraan masyarakat.

Biaya Pribadi dan Biaya Sosial
Ketika suatu perusahaan mencemari lingkungan dalam cara apapun juga, maka biaya pribadi selalu lebih kecil dibandingkan biaya sosial totalnya. Polusi selalu melibatkan adanya biaya eksternal-atau dengan kata lain, biaya yang tidak perlu dibayar oleh pihak yang memproduksi polusi tersebut. Polusi merupakan satu masalah dasar dalam perbedaan biaya pribadi dan biaya sosial.
Ada tiga kelemahan yang bsa dicatat. Pertama, alokasi sumber daya di pasar-pasar yang tidak memperhitungkan sumber biaya adalah tidak optimal karena, dari sudut pandang masyarakat secara keseluruhan, lebih banyak komoditas yang diproduksi dibandingkan permintaannya jika masyarakat memiliki gambaran yang akurat tentang papa yang sesungguhnya diperlukan untuk memproduksi komoditas tersebut. Kedua, papabila biaya eksternal tidak dihitung oleh produsen, maka mereka cenderung mengabaikanny dan tidak berusaha meminimalkannya. Keriga, saat produksi sebuah komoditas membebankan biaya eksternal pada pihak ketiga, maka barang0barang tidak lagi didistribusikan secara efisien kepada konsumen.
Jadi, polusi membebankan biaya eksternal, dan hal ini selanjutnya berarti biaya-biaya produksi (baiya pribadi atau internal) lebih kecil dibandingkan biaya sosial. Polusi lingkungan merupakan suatu pelanggaran atas prinsip=prinsip yang merupakan dasar sistem pasar.

Penyelesaian : Tugas-Tugas Perusahaan
Penyelesaian untuk masalah-maslah biaya eksternal, menurut argumen utilitarian yang disebutkan sebelumnya, adalah dengan memasukkan biaya polusi atau pencemaran ke dalam perhitungan-atau dengan kata lain, biaya-biaya ini ditanggung oleh produsen dan diperhitungkan untuk menentukan harga komoditas mereka. Penyelesaian kedua adalah dengan mewajibkan perusahaan yang menjadi sumber polusi untuk menghentikan polusi  dengan memasang alat-alat pengendali polusi.

Keadilan
Para pengamat mencatat bahwa polusi sering berpengaruh terhadpa meningkatnya ketidakadilan. Sejumlah penelitian mendukung tentang rasisme lingkungan : klaim bahwa tingkat polusi cenderung berkorelasi dengan ras, sehingga semakin tinggi proporsi kaum minoritas yang tinggal di suatu wilayah, semakin besar pula kemungkinan bahwa wilayah tersebut terkena polusi. Dalam arti bahwa polusi berkorelasi dengan penghasilan dan ras, maka polusi juga melanggar keadilan distributif.

Biaya dan Keuntungan
Dalam kaitannya dengan semua masalah yang muncul dari penggunaan pendekatan utilitarian terhadap masalah produksi, ada kemungkinan bahwa pendekatan-pendekatan alternatif lebih tepat digunakan.

Ekologi Sosial, Ekofeminisme, dan Kewajiban untuk Memelihara
Banyak prmikir menyatakan bahwa krisis lingkungan yang kita hadapi berakar dalam sistem-sistem hierarki dan dominasi sosial yang mrnjadi karakteristik masyarakat kita. Pandangan ini yang sekarang disebut ekologi sosial, menyatakan bahwa apabila pola-pola hierarki dan dominasi tersebut belum berubah, maka kita tidak akan bisa menghadapi krisis lingkungan.sejumlah pakar ekologi sosial seperti Bookchin menyatakan bahwa manusia harus melihat diri mereka sebagai pengurus alam, bukan penguasa yang mendominasi alam. Dari perspektif etika memberi perhatian, kerusakan alam yang menyertai hierarki dominasi kaum pria harus diganti dengan tindakan memberi perhatian dan memelihara hubungan dengan alam dan makhluk hidup.

Etika Konservasi Sumber Daya yang Bisa Habis
Konservasi mengacu pada penghematan sumber daya alam untuk digunakan di masa mendatang. Mengacu pada masa depan : kebutuhan untuk membatasi konsumsi saat ini agar cukuo untuk besok. Pengendalian polusi merupakan salah satu bentuk dari konservasi. Konservasi lebih tepat bila diterapkan pada masalah-masalah penyusutan sumber daya dibandingnkan polusi.

Hak Generasi Mendatang
Sejumlah penulis menyatakan bahwa salah bila kita berpikir generasi mendatang juga punya hak atas alam. Ada tiga alasan. Pertama, generasi mendatang tidak bisa dikatan memilikihak karena mereka saat ini belum ada dan mungkin juga tidak pernah ada. Kedua, jika generasi masa depan mempunyai hak, kita mungkin akan diarahkan menuju kesimpulan yang tidak masuk akal bahwa kita harus mengorbankan seluruh peradaban demi mereka. Ketiga, kita bisa mengatakan bahwa seseorang memiliki hak tertentu hanya jika kita tahu bahwa dia memiliki kepentingan tertentu yang dihitung oleh hak tersebut.

Keadilan bagi Generasi Mendatang
Untuk mennetukan cara yang adil untuk mendistribusikan sumber daya antargenerasi, menurut John Rawls, masing-masing "anggota" generasi selayaknya menempatkan diri dalam "posisi awal", dan tanpa mengetahui dari generasi mana mereka berasal, mereka wajib. Kewajiban untuk memberikan perhatian yang berasal dari etika memberi perhatian juga menyarankan kebijakan-kebijakan konservasi serupa dengan yang diusulkan dalam pandangan Rawls tentang keadilan. Pendukung utilitarianisme menyatakan bahwa masing-masing generasi mempunyai tugas untuk memaksimalkan keuntungan0keuntungan masa depan dari tindakan mereka dan meminimalkan kerugian masa depan. Alasan-alasan untuk memperhitungkan kelangkaan sumber daya di masa mendatang : akses beragam, preferensi waktu dan myopia, perkiraan yang tidak memadai, pengaruh khusus, pengaruh eksternal, dan sitribusi.

Pertumbuhan Ekonomi
Sejumlah penulis menyatakan bahwa jika kita ingin menghemat sumber daya alam yang langka agar generasi mendatang bisa memperoleh kualitas kehidupan yang memuaskan, maka kita perlu mengubah sistem perekonomian secara substansial khususnya dengan menekan usaha-usaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. E.F. Schumacher, misalnya, mengklaim bahwa negara-negara industri harus beralih dari teknologi padat modal yang berorientasi pada pertumbuhan menuju teknologi padat karya di mana masnusia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sekarang dilakukan oleh mesin. Jika perekonomian dunia didasarkan pada tujuan pertumbuhan ekonomi, maka permintaan akan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui akan terus meningkat. Masalh lain yang juga cukup merisaukan adalah persoalan-persoalan moral yang muncul dari distribusi persediaan energi yang semakin kecil di antara penduduk dunia.

Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal adalah semua faktor atau pihak-pihak atau variabel-variabel dinamis yang berada di luar bisnis atau perusahaan. Jika perusahaan didirikan di suatu daerah atau negara di dalam suatu sistem masyarakat, maka praktis perusahaan ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat ini dan merupakan subsistem di dalam masyarakat yang sudah tentu ditunut untuk berperilaku harminis dengan semua unsur di masyarakat : (a) hukum yang berlaku di masyarakat, (b) budaya atau kultur di masyarakat, (c) agama atau kepercayan, (d) politik pemerintahan, (e) ekonomi umum, (f) sosial atau masyarakat, (g) geografik, (h) pendidikan.

Lingkungan Internal
Lingkungan internal merupakan sejumlah faktor, variabel, atau atribut-atribut yang melekat pada variabel atau faktor tersebut yang berada di lingkungan bisnis, antara lain, yaiutu tenaga kerja, alat-alat, sistem manajemen, sarana dan prasarana yang tersedia di dalam perusahaan.


Sumber : Velasquez, M. G. (2005). Business ethics: Concepts and cases, 5th edition, Upper Saddle River, NJ: Prentice-Hall. 
https://rikanovyanti.wordpress.com/2010/02/18/etika-bisnis-bisnis-dan-lingkungannya/

Jumat, 10 April 2015

ETIKA UTULITARIANISME DALAM BISNIS

Baik etika utilitarianisme maupun kebijaksanaan pemerintah dan kegiatan bisnis sama-sama bersifat teleologis. Artinya, keduanya selalu mengacu pada tujuan dan mendasarkan baik buruknya suatu keputusan (keputusan etis untuk utilitarianisme dan keputusan bisnis untuk krbijaksanaan bisnis) pada tujuan atau akibat atau hasil yang akan diperoleh. Penilaian baik buruknya suatu kebijaksanaan berdasarkan apakah kebijaksanaan atau tindakan itu sesuai atau tidak sesuai dengan nilai atau norma moral tertentu, melainkan pada akibat pada konsekuensi atau pada tujuan yang ingin dicapai oleh kebijaksanaan atau tindakan itu.
1. Kriteria dan Prinsip Etika Utilitarianisme
Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat atau kegunaan tertentu. Kriteria kedua adalah manfaat terbesar, yaitu bahwa kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat terbesar (atau dalam situasi tertentu lebih besar) dibandingkan dengan kebijkasanaan atau tindakan alternatif lainnya. Kriteria ketiga menyangkut pertenyaan mengenai manfaat terbesar untuk siapa.kriteria ketiga berupa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Kriteria yang sekaligus menjadi pegangan objektif utilitarianisme adalah manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang.
Utilitarianisme mengajukan tiga oegangan. Pertama, suatu kebijaksanaan atau tindakan adalah baik dan tepat secara moral jika dan hanya jika kebijaksanaan atau tindakan itu mendatangkan manfaat atau keuntungan. Kedua, diantara berbagai kebijaksanaan dan tindakan yang sama baiknya, kebijaksanaan atau tindakan yang mempunyai manfaat terbesar adalah tindakan yang paling baik. Ketiga, diantara kebijaksanaan atau tindakan yang sama-sama mendatangkan manfaat terbesar, kebijaksnaan atau tindakan yang mendatangkan manfaat terbesar bagi paling banyak orang adalah tindakan tindakan yang paling baik. Secara padat ketiga prinsip itu dapat dirumuskan sebagai berikut : Bertindaklah sedemikian rupa sehinggan tindakan itu mendatangkan keuntungan sebesar mungkin bagi sebanyak mungkin orang.
2. Nilai Positif Etika Utilitarianisme
Etika ini menggambarkan apa yang sesungguhnya dilakukan oleh orang yang rasional dlam mengambil keputusan dalam hidup ini, khususnya keputusan moral, termasuk juga dalam bidang bisnis. Ia merumuskan prosedur dan pertimbangan yang banyak digunakan  dalam mengambil sebuah keputusan, khususnya yang menyangkut kepentingan orang banyak.
Nilai positif pertama adalah rasionalitasnya. Utilitarianisme memberi kriteria yang objektif dan rasional mengapa suatu tindakan dianggap baik. Suatu tindakan atau kebijaksanaan dianggap baik kalau ia mendatangkan hal tuang baik bagi manusia (kebahagiaan, kesejahteraan, keuntungan, dan seterusnya. Etika utilitarianisme bahkan bisa membenarkan suati tindakan yang secara dontologis tidak etis sebagai tindakan baik dan etis, yaitu ketika tujuan dan akibat adari tindakan itu bermanfaat bagi orang atau kelompok orang tertentu, atau bahkan bagi banyak orang. Kedua, utilitrianisme sangat menghargai kebebasan setiap pelaku moral. Ketiga, unsur positif yang lain adalah universalitasnya. Etika utilitarianisme justru mengutarakan manfaat atau akibat baik dari suatu tindakan bagi banyak orang. Semakin banyak orang yang terkena akibat baik suatu kebijaksanaan atau tindakan, semakin baik tindakan tersebt. Dasar pemikirannya adalah bahwa kepentingan setiap orang sama bobotnya.
Utilitarianisme memmpunyai dua daya tarik. Yaitu, bahwa etika utilitarianisme sangat sejalan dengan intuisi moral semua manusia bahwa kesejahteraan manusia merupakan hal yang paling pokok bagi etika dan moralitas, dan bahwa etika ini sejalan dengan intuisi moral kita bahwa semua kaidah moral dan tujuan tindakan moral manusia harus dipertimbangkan, dinilai, dan duiji berdasarkan akibatnya bagi kesejahteraan manusia.
3. Utilitarianisme sebagai Proses dan sebagai Standar Penilaian
Pertama, etika utilitarianisme dipakai sebagai proses untuk mengambil keputusan, kebijaksanaan, ataupun bertindak. Artinya, kriteria utilitarianisme menjadi dasar utama dalam penyusunan program atau perencanaan khususnya dari suatu kegiatan yang menyangkut kepentingan banyak orang. Juga sebagai kriteria seleksi bagi setiap alternatif yang bisa diambil. Berdasarkan sejauh mana alternatif itu punya kemungkinan untuk mendatangkanmanfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang.
Kedua, etika utilitarianisme juga dipakai sebagai standar penilaian bagi tindakan atau kebijaksanaan yang telah dilakukan. Yang paling pokok adalah menilai tindakan atau kebijaksanaan yang telah terjadi berdasarkan akibat atau konsekuensinya, yaitu sejauh mana ia mendatangkan hasil terbaik bagi banyak orang. Pada wujud yang kedua, etika utilitarianisme sangat tepat untuk evaluasi kebijaksanaan atau proyek yang sudah dijalankan. Dalam membuat perencanaan, kriteria etika utilitarianisme sebagai standar penilaian dapat dipakai untuk mencari jalan keluar atau pemecahan atas akibat negatif tertentu yang tidak diinginkan yang diduga akan terjadi sehubungan dengan bakal tindakan atau kebijaksanaan yang akan diambil itu. Etika ini dapat juga sekaligus berfungsi sebagai sasaran atau tujuan ketika kebijaksanaan atau program tertentu yang telah dijalankan itu akan direvisi.
4. Analisis Keuntungan dan Kerugian
Suatu sisitem ekonomi akan dinilai lebih baik kalau dalam sistem itu paling kurang satu orang menjadi lebih baik keadaannya dan tidak ada orang yang menjadi lebih buruk keadannya dibandingkan dengan sistem lainnya. Etika utilitarianisme juga relevan dalam konsep ekonomi. Semua perangkat ekonomi harus dikerahkan sedemikian rupa untuk bisa mencapai hasil terbesar dengan menggunakan sumber daya sekecil mungkin. Etika ini pun digunakan dalam perencanaan dan evaluasi (atau revaluasi) kegiatan bisnis suatu perusahaan, dalam segala aspek : produksi, promosi, penjualan, diversifikasi, pembukuan cabang, penambahan tenaga, penambahan modal, dan seterusnya. Etika utilitarianisme sangat sejalan dengan hakikat dan tujuan bisnis untuk mencari keuntungan. Sasaran akhir yang hendak dicapai lalu tidak lain adalah the greatest net benefit atau the lowest net cost.
Dalam analisis keuntungan dan kerugian, manfaat dan kerugian selalu atau terutama dikaitkan dengan perusahaan. Pada etik autilitarianisme, manfaaat dan kerugian dikaitkan dengan semua orang terkait. Pertama keuntungan dan kerugian. Dalam analisis ini perlu juga diperhatikan bagaimana dan sejauh mana suatu kebijaksanaan dan kegiatan bisnis suatu perusahaan membawa akibat yang menguntungkan dan merugikan bagi kreditor, konsumen, pemasok, penyalur, karyawan, masyarakat luas, dan seterusnya. Kedua, seringkali terjadi bahwa analisis keuntungan dan kerugian ditempatkan dalam kerangka uang (satuan yahng mudah dikalkulasi). Yang juga perlu mendapat perhatian adalah bahwa keuntungan dan kerugian di sinsi tidak hanya menyangkut aspek finansial, kepuasa konsumen, dan sebaginya. Ketiga, bagi bisnis yang baik, hal yang juga mendapat perhatian dalam analisis keuntungan dan kerugian adalah keuntungan dan kerugian dalam jangka pendek. Semua ini pada kahirnay bermuaara pada satu semua kelompok terkait yang berkepentingan diperhatikan, dan karena yang diutamakan adalah kepentingan jangka panjang dan bukan keuntungan sesaat.
Langkah-langkah konkret yang perlu dilakukan dalam membuat sebuah kebijaksanaan bisnis adalah mengumoulkan dan mempertimbangkan alternatif kebijaksanaan dan kegiatan bisnis sebanyak-banyaknya. Kedua, semua laternatfi pilihan itu perlu dinilai berdasarkan keuntungan yang akan dihasilkan dalam kerangka luas menyangkut aspek moral. Krtiga, neraca keuntungan dibandingkan dengan kerugian, dalam segala aspek itu perlu dipertimbangkan dalam kerangka jangka panjang.
5. Kelemahan Etika Utilitarianisme
Pertama, manfaat merupakan sebuah konsep yang begitu luas sehingga dalam kenyataan praktis malah menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit. Kedua, persoalan klasik yang lebih filosofis sifatnya adalah bahwa etika utilitarianisme tidak pernah menganggap serius suatu nilai tindakan pada dirinya sendiri dan hanya memperhatikan nilai suatu tindakan sejauh berkaitan dengan akibatnya. Ketiga, etika utilitarianisme tidak pernah menganggap serius kemauan atau motivasi baik seseorang. Keempat, variabel yang dinilai tidak semuanya bisa dikuantifikasi. Kelima, seandainya ketiga kriteria etika utiltarianisme saling bertentangan, ada kesulitan cukup besar untuk menentukan priorotas diantara ketiganya. Keenam, kelemahan paling pkok adalah etika ini membenarkan hak kelompok minoritas tertentu dikorbankan demi kepentingan mayoritas. Jadi, utilitarianisme membenarkan, bahkan menimbulkan ketidakadilan, khususnya bagi kelompok minoritas.
6. Jalan Keluar
Membuat pembedaan antara utilitarianisme aturan dan tindakan. Artinya, yang utama dalam etika utilitarianisme adalah aturan atau prisnsip dasarnya dan bukan tindakan partikular satu demi satu. Yang diprioritaskan adalah utilitarianisme-aturan, baru kemudian utilitarianisme-tindakan. Ini berarti, yang utama bukanlah apakah suatu tindakan mendatangkan manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang, melainkan yang pertema-tama dinyatakan adalah apakah tindakan itu memang sesuai dengan aturan moral yang harus diikuti oleh semua orang. Menurut utilitarianisme, ada dua prinsip yang harus diperhatikan. Pertama, suatu tindakan adalah baik dari segi etis hanya dan hanya kalu tindakan itu dianut oleh aturan-aturan moral yang memang tepat. Kedua, sebuah aturan moral yang tepat kalau dan hanya kalau jumlah keseluruhan manfaat yang dihasilkan kalau semua orang mengikuti aturan alternatif tertentu.
Tidak mungkin kita memuaskan semua pihak secara sama dengan tingkat manfaat yang sama isi dan bobotnya. Pertama, dalam banyak hal kita perlu menggunakan perasaan atau intuisi moral kita untuk mempertimbangkan secara jujur apakah yang kita ambil itu yang memenuhi kriteria etika utilitarianisme diatas memang manusiawi atau tidak. Kedua, dalam kasus konkret di mana kebijaksanaan atau tindkan bisnisn tertentu yang dalam jangka panjang tidak hanya menguntungkan perusahaan tetapi juga banyak pihak terkait, termasuk secara moral, tetapi ternyata ada pihak tettentu yang terpaksa dikorbankan atau dirugikan secara tak terelakkan, kiranya pendekatan dan komunikasi pribadi akan merupakan sebuah langkah yang punya nilai moral tersendiri.ndengan menggunakan mekanisme simpati moral kita menempatkan diri kita pada posisi pihak-pihak yang terkait untuk merasakan secara imajinatif apakah manfaat yang dihasilkan kebijaksanaan atau tindakan yang ada memang benar-benar merupakan manfaat bagi mereka.
Dalam kerangka etika Adam Smith, simpati moral tadi perlu dilengkapi dengan mekanisme penonton tak berpihak (the impartial spectator), yang tidak lain adalah posisi netral dari orang ketiga yang akan melihat persoalan yang ada dari sebuah perspektif yang netral dan objektif. Diharapkan kita bisa melihat kasus itu lepas dari kepentingan pribadi, perusahaan, ataupun kepentingan mayoritas yang diuntungkan.
Sumber :Keraf, Sonny. (1998). Etika Bisnis, Tuntutan dan Relevansinya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

PRINSIP-PRINSIP ETIKA BISNIS

1. Beberapa Prinsip Umum Etika Bisnis
Prisnsip pertama adalah prinsip otonomi. Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Orang bisnis yang otonom adalah orang yang sadar sepenuhya akan apa yang menjadi kewajibannya dalam dunia bisnis. Orang yang otonom bukanlah orang yang mengikuti begitu saja norma dan nilai moral yang ada, melainkan adalah orang yang melakukan sesuatu karena tahu dan sadar bahwa itu baik.
Dalam etika, kebebasan adalah persyaratan utama untuk betindak secara etis. Hanya orang yang bebas yang bisa bertindak secara etis karena tindakan etis adalah tindakan yang dalam bahasa Kant bersumber dari kemauan baik serta kesadaran pribadi. Seorang pelaku bisnis hanya mungkin berindak secara etis apabila ia diberi kebebasan dan kewenangan penuh untuk mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan pa yang dianggapnya baik. Karena itu, tanpa kebebasan seorang manajer tidak akan bisa menjadi manajer yang baik secara etis, melainkan sebaliknya hanya mengikuti perintah dan kemauan dari pihak lain di luar dirinya. Orang yang otonom adalah orang yang tidak saja sadar akan kewajibannya dan bebas mengambil keputusan dan tindakan berasarkan apa yanh dianggapnya baik melainkan juga adalah orang yang bersedia mempetanggungjawabkan keputusannya dan tindakannya serta dampak dari keputusan dan tindakannya. Prang yang bermoral adalah orang yang selalu bersedia untuk bertanggung jawab atas tindakannya.
Tiga unsur otonomi dalam bisnis. Pertama, dengan otonomi setiap pelaku bisnis dan juga setiap karyawan dari segala jenjang diperlukan sebagai manusia-manusia bermoral, yang mamapu mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang baik serta bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya. Dalam dunia bisnis tanggung jawab moral yang diharapkan dari setiap pelaku bisnis mengarah pada tanggung jawab dan kejujuran.
Prisnisp kedua, prinsip kejujuran. Bisnis tidak akan bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan pada prinsip kejujuran. Kejujuran adalah kunci keberhasilan bisnis. Dalam mengikat perjanjian dan kontrak tertentu, semua pihak (pelaku binis dalam hal ini)  secara a priori saling percaya satu sama lain, bahwa masing-masing pihak tulus dan jujur dalam membuat perjanjian dan kontrak itu dan lebih dari itu serius  serta tulus dan jujur melaksanakan janjinya. Kejujuran juga relevan dalam penawaran dan jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Kejujuran juga relevan dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan. Dalam ketiga wujud diatas, kejujuran terkait erat dengan kepercayaan.
Prinsip ketiga, prinsip keadilan. Prinsip ini menuntut agar setip orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai dan kriteria yang rasional objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Prinsip keadilan menuntut agar setiaporang dalam kegiatan bisnis entah dalam relasi eksternal perusahaan maupun relasi internal perusahaan perlu diperlukan sesuai dengan haknya masing-masing.
Prisnsip keempat, prinsip saling menguntungkan (mutual benefit principal). Menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak. Prinsip kelima adalah integritas moral. Dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan agar dia perlu menjalankan bisnis dengan menjaga nama baik perusahaannya.
Menurut Adam Smith prinsip no harm (tidak merugikan hak dan kepentingan orang lain) merupakan prinsip paling minim dan paling pokok yang harus ada bagi interaksi sosial mana pun, termasuk bisnis.
2. Etos Bisnis
Adalah suatu kebiasaan atau budaya moral menyangkut kegiatan bisnis yang dianut dalam suatu perusahaan dari satu generasi ke generasi yang lain. Inti etos ini adalah pembudayaan atau pembiasaan penghayatan akan nilai, norma, atau prinsip moral tertentu yang dianggap sebagai inti kekauatan dari suatu perusahaan yang sekaligus juga membedakannya dari perusahaan lain. Bisa dalam bentuk mutu, pelayanan, disiplin, kejujuran, tanggung jawab, perlakuan yang fair tanpa diskriminasi.
Nilai adalah apa yang diyakini sebagai hal yang paling mendasar dalam hidup ini dan menyangkut kondisi yang didambakan dan paling penting bagi seseorang atau suatu kelompok orang dan yang sekaligus paling menentukan dalam hidup orang atau kelompok itu. Berkembang atau tidaknya sebuah etos bisnis dalam sebuah perusahaan sangat ditentukan oleh gaya kepemimpinan dalam perusahaa tersebut.
3. Relativitas Bisnis dan Moral
Pandangan pertama adalah bahwa norma etis berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Pandangan kedua mengenai nilai dan norma moral sendiri paling benar dalam arti tertentu mewakili kubu ,oralisme universal bahwa pada dasarnya norma dan nilai berlaku universal, dan karena itu apa yang dianggap dan dianut sebagai benar di negara sendiri harus juga diberlakukan  di negara lain (karena anggapan bahwa di negara lain prinsip itu pun berlaku dengan sendirinya). Menurut De George, prinsip paling pokok yang berlaku universal, khususnya dalam bisnis adalah prinsip integrasi pribadi atau integrasi moral. Prinsip integritas pribadi mengandung pengertian bahwa norma yang dianut adalah norma yang sudah diterima menjadi milik pribadi dan tidak lagi bersifat eksternal.
4. Pendekatan Stakeholder
Merupakan sebuah pendekatan baru yang banyak digunakan, khususnya dalam etika bisnis, belakangan ini ddengan mencoba mengintegrasikan kepentingan bisnis di satu pihak dan tunutan etika di pihak lain. Pendekatan stakeholder adalah cara mengamati dan menjelaskan secara analitis bagaimana berbagai unsur dipengaruhi dan mempengaruhi keputusan dan tindakan bisnis. Pendekatan ini terutama memetakan hubungan-hubungan yang terjalin dalam kegiatan bisnis pada umumnya untuk memperlihatkan siapa saja yang punya kepentingan, terkait, dan terlibat dalam kegiatan bisnis [ada umumnya. Pendekatan ini mempunyai satu tujuan imperatif : bisnis harus dijalankan sedemikina rupa agar hak dan kepentingan semua pihak terkait yang berkepentingan (stakeholder) dengan suatu kegiatan bisnis dijamin , iperhatikan, dan dihargai.

Sumber :Keraf, Sonny. (1998). Etika Bisnis, Tuntutan dan Relevansinya. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.