Dimensi Polusi dan Penyusutan Sumber Daya
Polusi mengacu pada kontaminasi yang tidak diinginkan terhadap lingkungan oleh pembuatan atau oenggunaan komoditas. Penyusutan sumber daya mengacu pada konsumsi sumber daya yang terbatas atau langka.
Polusi Udara
Polusi udara telah terjadi semenjak revolusi dunia, saat cerobng-cerobong asap pabrik mulai berdiri. Polusi udara semakin meningkat secara besar-besaran saat industri mulai meluas. Polusi udara dapat menyebabkan terjadinya : pemanasan global, penyusutan ozon, hujan asam, racun udara, dan kualitas udara menurun.
Polusi Air
Polusi air kita hadapi sejak peradaban manusia mulai menggunakan air untuk membuang sampah dan kotoran.nbahan-bahan pencemar air : sampah organik, garam, logam, bahan radioaktif, bakteri, virus, dan endapan.
Polusi Tanah
Zat beracun yang dibuang ke tanah termasuk zat kimia asam, logam inorganik (seperti merkuri dan arsenik), bahan pekarut mudah terbakar, pestisida, herbisida, fenol, bahan peledak, dan sebagainya.
Limbah padat seperti sampah yang dihasilkan industri di Amerika yang bisa mencapai 7,6 miliar ton per tahun menjadi masalah terseniri bagi lingkungan. Reaktor nuklir juga menghasilkan tiga jenis limbah : limbah tingkat tinggi, limbah transuranik, limbah tingjat rendah.
Penyusutan Spesies dan Habitat
Habitat hutan yang menjadi temoat tinggal bernagai jenis spesies dihancuerkan oleh industri kayu. Para ahli memperkirakan bahwa kerusakan hutan hujan di bumi mencapai tingkat 1 persen per tahun. Hilangnya habitat hutan yang disertai dengan pengaruh-pengaruh polusi diperkirakan telah mengakibatkan kepunahan sejumlah besar spesies.
Penyusutan Bahan Bakar Fosil
Saat semua cadangan sumber daya alam mulai menipis, secara otomatis proses produksi juga semakin sulit dan biayanya juga semakin mahal. Konsumsi sumber daya secara bertahap menurun ketika semakin sulit diperoleh, dan bukan berakhir pada periode di mana sumber daya tersebut habis sama sekali dalam waktu singkat.
Penyusutan Mineral
Habisnya mineral dalam jangka waktu relatif singkat akan mengakibatkan hancurnya berbagai industri yang bergantung padanya.
Etika Pengendalian Polusi
Selama berabad-abad, lembaga bisnis diperbolehkan mengabaikan akibat kegiatan mereka terhadap lingkunga. Pertama, para pelaku bisnis menganggap udara dan air adalah barag gratis-atau dengan kata lain, tidak ada yang memiliki dan masing-masing perusahaan bisa menggunakannya tanpa perlu mengeluarkan biaya. Kedua, bisnis melihat lingkungan sebagai barang tak terbatas.
Etika Ekologi
Sebuah etika ekologi adalah rangkaian organisme dan lingkingan yang saling terkait dan saling bergantung. Usaha bisnis bergantung pada lingkungan alam dalam memperoleh energi, sumber dyaa material, dan pembuangan limbah, dan sebaliknya, alam dipengaruhi oleh aktivitas-aktivitas bisnis dari perusahaan. Etika ekologi didasarkan pada gagasan bahwa bagian-bagian lingkungan yang bukan manusia perlu dijaga dan bagian-bagian itu sendiri, tidak masalah apakah menguntungkan masnusia atau tidak. Etika ekologi adalah sebuah etika yang mengklaim bahwa kesejahteraan dari bagian-bagian nonmanusia di bumi ini secara intrinsik emiliki nilai tersenriri dan bahwa, karena adanya nilai intrinsik ini, kita manusia memiliki tugas untuk menghargai dan mempertahankannya. Versi-versi yang lebih luas dari etika ekologi mencakup tugas-tugas kita tidak hanya pada binatang tapi juga tumbuhan. Sebagian versi bicara tentang tugas dan kewajiban, dan mengusulkan sebuah pendekatan terhadap alam yang lebih terkait dengan maslah kebaikan dak karakter.
Hak Lingkungan dan Pembatasan Mutlak
Lingkungan yang nyaman buknlah sesuatu yang kita semua ingin miliki : tetapi sesuatu di mana yang lain berkewajiban untuk memungkinkan kita untuk memilikinya. Water Polution Control Act (1972) mewajibkan perusahaan utnuk menggunakan "teknologi praktis terbaik" untuk mengatasi poluis (misalnya teknologi yang dipakai oleh beberapa pabrik yang paling sedikit menghasilkan polusi dslam suatu industri. Peraturan tersebut tidak mengatakan bahwa perusahaan harus mengurangi polusi sejauh keuntungannya lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan : tetapi, sebaliknya, hanya menerapkan pembatasan mutlak atas polusi, berepapun biaya yang dikeluarkan. Pembatasan mutlak semacam ini paling baik bila dilihat dengan mengacu pada hak-hak manusia hal yang menyulitkan adalah kemungkinan pengaruh persyaratan penanganan polusi terhadap penutupan perusahaan dan hilangnya lapangan kerja.
Utilitarianisme dan Pengendalian Parsial
Pendekatan yang secra fundamental bersifat utilitarian terhadap masalah lingkungan adalah dengan melihat masalah-masalah tersebut sebagai cacat pasar. Jika suatu indistri mencemari lingkungan, harga pasar dari komoditas -komoditasnya tidak lagi mencerminkan biaya sesungguhnya dalam proses produksi komoditas tersebut : adalah kesalahan alokasi sumber daya, peningkatan jumlah limbah, dan distribusi komoditas yang tidak memadai. Pendekatan utilitarianisme menyatakan bahwa seseorang perlu berusaha menghindari polusi karena dia juga tidak ingin merugikan kesejahteraan masyarakat.
Biaya Pribadi dan Biaya Sosial
Ketika suatu perusahaan mencemari lingkungan dalam cara apapun juga, maka biaya pribadi selalu lebih kecil dibandingkan biaya sosial totalnya. Polusi selalu melibatkan adanya biaya eksternal-atau dengan kata lain, biaya yang tidak perlu dibayar oleh pihak yang memproduksi polusi tersebut. Polusi merupakan satu masalah dasar dalam perbedaan biaya pribadi dan biaya sosial.
Ada tiga kelemahan yang bsa dicatat. Pertama, alokasi sumber daya di pasar-pasar yang tidak memperhitungkan sumber biaya adalah tidak optimal karena, dari sudut pandang masyarakat secara keseluruhan, lebih banyak komoditas yang diproduksi dibandingkan permintaannya jika masyarakat memiliki gambaran yang akurat tentang papa yang sesungguhnya diperlukan untuk memproduksi komoditas tersebut. Kedua, papabila biaya eksternal tidak dihitung oleh produsen, maka mereka cenderung mengabaikanny dan tidak berusaha meminimalkannya. Keriga, saat produksi sebuah komoditas membebankan biaya eksternal pada pihak ketiga, maka barang0barang tidak lagi didistribusikan secara efisien kepada konsumen.
Jadi, polusi membebankan biaya eksternal, dan hal ini selanjutnya berarti biaya-biaya produksi (baiya pribadi atau internal) lebih kecil dibandingkan biaya sosial. Polusi lingkungan merupakan suatu pelanggaran atas prinsip=prinsip yang merupakan dasar sistem pasar.
Penyelesaian : Tugas-Tugas Perusahaan
Penyelesaian untuk masalah-maslah biaya eksternal, menurut argumen utilitarian yang disebutkan sebelumnya, adalah dengan memasukkan biaya polusi atau pencemaran ke dalam perhitungan-atau dengan kata lain, biaya-biaya ini ditanggung oleh produsen dan diperhitungkan untuk menentukan harga komoditas mereka. Penyelesaian kedua adalah dengan mewajibkan perusahaan yang menjadi sumber polusi untuk menghentikan polusi dengan memasang alat-alat pengendali polusi.
Keadilan
Para pengamat mencatat bahwa polusi sering berpengaruh terhadpa meningkatnya ketidakadilan. Sejumlah penelitian mendukung tentang rasisme lingkungan : klaim bahwa tingkat polusi cenderung berkorelasi dengan ras, sehingga semakin tinggi proporsi kaum minoritas yang tinggal di suatu wilayah, semakin besar pula kemungkinan bahwa wilayah tersebut terkena polusi. Dalam arti bahwa polusi berkorelasi dengan penghasilan dan ras, maka polusi juga melanggar keadilan distributif.
Biaya dan Keuntungan
Dalam kaitannya dengan semua masalah yang muncul dari penggunaan pendekatan utilitarian terhadap masalah produksi, ada kemungkinan bahwa pendekatan-pendekatan alternatif lebih tepat digunakan.
Ekologi Sosial, Ekofeminisme, dan Kewajiban untuk Memelihara
Banyak prmikir menyatakan bahwa krisis lingkungan yang kita hadapi berakar dalam sistem-sistem hierarki dan dominasi sosial yang mrnjadi karakteristik masyarakat kita. Pandangan ini yang sekarang disebut ekologi sosial, menyatakan bahwa apabila pola-pola hierarki dan dominasi tersebut belum berubah, maka kita tidak akan bisa menghadapi krisis lingkungan.sejumlah pakar ekologi sosial seperti Bookchin menyatakan bahwa manusia harus melihat diri mereka sebagai pengurus alam, bukan penguasa yang mendominasi alam. Dari perspektif etika memberi perhatian, kerusakan alam yang menyertai hierarki dominasi kaum pria harus diganti dengan tindakan memberi perhatian dan memelihara hubungan dengan alam dan makhluk hidup.
Etika Konservasi Sumber Daya yang Bisa Habis
Konservasi mengacu pada penghematan sumber daya alam untuk digunakan di masa mendatang. Mengacu pada masa depan : kebutuhan untuk membatasi konsumsi saat ini agar cukuo untuk besok. Pengendalian polusi merupakan salah satu bentuk dari konservasi. Konservasi lebih tepat bila diterapkan pada masalah-masalah penyusutan sumber daya dibandingnkan polusi.
Hak Generasi Mendatang
Sejumlah penulis menyatakan bahwa salah bila kita berpikir generasi mendatang juga punya hak atas alam. Ada tiga alasan. Pertama, generasi mendatang tidak bisa dikatan memilikihak karena mereka saat ini belum ada dan mungkin juga tidak pernah ada. Kedua, jika generasi masa depan mempunyai hak, kita mungkin akan diarahkan menuju kesimpulan yang tidak masuk akal bahwa kita harus mengorbankan seluruh peradaban demi mereka. Ketiga, kita bisa mengatakan bahwa seseorang memiliki hak tertentu hanya jika kita tahu bahwa dia memiliki kepentingan tertentu yang dihitung oleh hak tersebut.
Keadilan bagi Generasi Mendatang
Untuk mennetukan cara yang adil untuk mendistribusikan sumber daya antargenerasi, menurut John Rawls, masing-masing "anggota" generasi selayaknya menempatkan diri dalam "posisi awal", dan tanpa mengetahui dari generasi mana mereka berasal, mereka wajib. Kewajiban untuk memberikan perhatian yang berasal dari etika memberi perhatian juga menyarankan kebijakan-kebijakan konservasi serupa dengan yang diusulkan dalam pandangan Rawls tentang keadilan. Pendukung utilitarianisme menyatakan bahwa masing-masing generasi mempunyai tugas untuk memaksimalkan keuntungan0keuntungan masa depan dari tindakan mereka dan meminimalkan kerugian masa depan. Alasan-alasan untuk memperhitungkan kelangkaan sumber daya di masa mendatang : akses beragam, preferensi waktu dan myopia, perkiraan yang tidak memadai, pengaruh khusus, pengaruh eksternal, dan sitribusi.
Pertumbuhan Ekonomi
Sejumlah penulis menyatakan bahwa jika kita ingin menghemat sumber daya alam yang langka agar generasi mendatang bisa memperoleh kualitas kehidupan yang memuaskan, maka kita perlu mengubah sistem perekonomian secara substansial khususnya dengan menekan usaha-usaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. E.F. Schumacher, misalnya, mengklaim bahwa negara-negara industri harus beralih dari teknologi padat modal yang berorientasi pada pertumbuhan menuju teknologi padat karya di mana masnusia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sekarang dilakukan oleh mesin. Jika perekonomian dunia didasarkan pada tujuan pertumbuhan ekonomi, maka permintaan akan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui akan terus meningkat. Masalh lain yang juga cukup merisaukan adalah persoalan-persoalan moral yang muncul dari distribusi persediaan energi yang semakin kecil di antara penduduk dunia.
Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal adalah semua faktor atau pihak-pihak atau variabel-variabel dinamis yang berada di luar bisnis atau perusahaan. Jika perusahaan didirikan di suatu daerah atau negara di dalam suatu sistem masyarakat, maka praktis perusahaan ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat ini dan merupakan subsistem di dalam masyarakat yang sudah tentu ditunut untuk berperilaku harminis dengan semua unsur di masyarakat : (a) hukum yang berlaku di masyarakat, (b) budaya atau kultur di masyarakat, (c) agama atau kepercayan, (d) politik pemerintahan, (e) ekonomi umum, (f) sosial atau masyarakat, (g) geografik, (h) pendidikan.
Lingkungan Internal
Lingkungan internal merupakan sejumlah faktor, variabel, atau atribut-atribut yang melekat pada variabel atau faktor tersebut yang berada di lingkungan bisnis, antara lain, yaiutu tenaga kerja, alat-alat, sistem manajemen, sarana dan prasarana yang tersedia di dalam perusahaan.
Sumber : Velasquez, M. G. (2005). Business ethics: Concepts and cases, 5th edition, Upper Saddle River, NJ: Prentice-Hall.
https://rikanovyanti.wordpress.com/2010/02/18/etika-bisnis-bisnis-dan-lingkungannya/
